Minggu, 08 Mei 2011

Teuku Wisnu Bakal Ajak Shireen Liburan ke Aceh


Kapanlagi.com - Setelah berakhirnya sinetron CINTA FITRI, Teuku Wisnu memiliki sedikit waktu luang untuk dirinya sendiri. Rencana berlibur ke Aceh selama seminggu pun ia canangkan. Liburan tersebut rencananya ia laksanakan pada bulan Juni mendatang, dan tak ketinggalan, sang pacar, Shireen Sungkar pun bakal ia ajak serta."Liburan rencananya gue mau ke Aceh sama temen-temen gue, mungkin bulan Juni ke sana. Bokap ingin memperlihatkan kinerjanya selama ini ikut andil membangun Aceh. Shireen akan diajak juga, Insyaallah bulan Juni. bokap sama sahabat gue udah deket banget, kalo nyokap sama temen-temen cowok kurang deket," ucapnya ditemui di Gandaria City, Jaksel beberapa waktu lalu.
Memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai orang kantoran, ketika ditanya apakah Wisnu tidak ingin meneruskan jejak sang ayah? Wisnu pun mengatakan saat ini ia masih nyaman dengan profesi yang ia jalani.
"Gue cukup nyaman dengan pekerjaan gue sekarang. Gue ingin nabung, selesain kuliah dan bisnis kecil-kecilan, buka ini, buka itu, sekarang tahap mencoba. Pengennya sih restaurant kecil, tempatnya udah ada. Entar aja ya, takutnya gue cerita sekarang malah gak jadi lagi," ceritanya.    (kpl/ato/sjw)

Sabtu, 07 Mei 2011

Ribuan Warga Saksikan Lomba Perahu Naga




BANDA ACEH, KOMPAS.com — Ribuan warga memadati pinggiran Krueng (sungai) Aceh di kawasan Peunayong, Banda Aceh, untuk menyaksikan perlombaan perahu naga yang dilaksanakan dalam rangka menyemarakkan dan menyukseskan tahun kunjungan wisata 2011.

Wartawan Antara dari Banda Aceh, Sabtu (7/5/2011), melaporkan, ribuan warga yang datang dari berbagai daerah di Provinsi Aceh itu mulai berdatangan sejak pukul 08.30 WIB.
Selain menyaksikan perlombaan perahu naga, perayaan yang dirangkai dalam Festival Krueng Aceh-Peunayong itu juga dapat menyaksikan lomba perahu dayung tradisional.
"Sejak tadi pagi kami sekeluarga sudah menunggu perlombaan perahu naga ini," kata Hasballah (43), seorang warga Gampong (Desa) Kajhu, Aceh Besar.
Menurutnya, perlombaan perahu naga dan perahu dayung tradisional hendaknya dapat dilaksanakan setiap tahun dan menjadi sarana hiburan bagi masyarakat Aceh.
Ketua penyelenggara festival Krueng Aceh-Peunayong, M Diwarsyah, mengatakan, perlombaan perahu naga dan perahu dayung ini juga merupakan salah satu kegiatan untuk menyemarakkan HUT ke-806 Kota Banda Aceh.
"Perlombaan hari ini baru babak penyisihan, besok (Minggu, 8/5/2011) merupakan babak final," kata M Diwarsyah.
Selain menggelar babak final, perayaan Festival Krueng Aceh-Peunayong juga dirangkai dengan kegiatan pameran di Jalan Ahmad Yani dan pawai perahu hias serta lomba menangkap bebek.

Aceh waspada gelombang tinggi


BANDA ACEH - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Blang Bintang, Aceh Besar, memprediksi tujuh hari ke depan (7-13 Mei 2011), tinggi gelombang laut di Aceh mencapai lima meter, terutama di perairan utara Pulau Sabang.

Masyarakat yang tinggal di pesisir, pengusaha jasa angkutan laut, pengguna transportasi laut di Aceh, terutama nelayan, diminta agar lebih waspada dalam pekan ini.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Blang Bintang, Aceh Besar, Alvianto melalui prakirawan Anang Heriyanto  di Blang Bintang, Aceh Besar, hari ini mengatakan, sepekan ke depan dari pengamatannya melalui citra satelit, diprakirakan gelombang di perairan Aceh (Sabang dan Pulo Aceh) mencapai 2-3,5 meter, sedangkan di bagian utara Sabang tingginya bisa mencapai 3,5-5 meter.

“Sepekan ke depan, gelombang tinggi tidak saja terjadi di perairan Aceh maupun utara Sabang, tetapi juga di perairan barat-selatan Aceh yang tinggianya mencapai 2,5-3,5 meter. Sedangkan di perairan utara-timur Aceh, tinggi gelombang laut berkisar 1,25-2,5 meter,” papar Anang.

Menurut Anang, hal itu terjadi karena angin yang bertiup di sejumlah wilayah di Aceh seminggu ke depan masih berpotensi kencang. Kecepatannya berkisar antara 10-40 km/jam. Kecepatan angin bertiup dari barat daya hingga menuju barat laut.  Namun demikian, kata Anang, meski sebagian wilayah Aceh akan dilanda angin kencang, kemungkinan untuk terjadinya puting beliung juga harus diwaspadai.

“Memang sejauh ini kita belum bisa memprediksi kemungkinan itu, tapi hal itu bisa saja terjadi. Untuk melihat tanda alam bisa dilihat gumpalan awan hitam pekat yang berpusing,” katanya.

Anang menambahkan, pola angin yang umumnya bertiup dari barat daya hingga barat laut yang terjadi sepekan ke depan, banyak membawa uap air dari lautan yang akhirnya membentuk gumpalan awan. Sehingga sejumlah daerah di Aceh diprediksi masih sangat berpeluang untuk turun hujan. Intensitasnya ringan hingga sedang yang diprakirakan terjadi pada sore atau malam hari. Malah disertai angin kencang dan guntur dalam durasi singkat.

“Meski demikian, fenomena cuaca lain yang bisa kita lihat, tujuh hari ke depan temperatur suhu di sebagian wilayah di Aceh cukup tinggi, berkisar antara 32-33 derajat Celcius. Hal ini terjadi pada siang hari, saat aktivitas atmosfer berskala lokal memberikan peluang bagi pertumbuhan awan-awan konvektif atau hujan di atas atmosfer Aceh,” pungkas Anang.

Duh, Hutan Aceh Diagunkan Broker Asing




BANDA ACEH, KOMPAS.com - Carbon Conservation, perusahaan broker karbon asal Australia, menjadikan hutan Aceh sebagai agunan. Perjanjian kerja sama pemasaran dan penjualan karbon kredit hutan Aceh dengan Pemerintah Aceh dijadikan aset dalam bertransaksi saham dengan East Asia Minerals Corporation, perusahaan tambang emas Kanada yang telah mengeksplorasi emas di hutan Aceh.
<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a3126491' border='0' alt='' /></a>
Demikian diungkapkan Koordinator Nasional Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi, dalam siaran persnya, Kamis (5/5/2011). Menurut Vanda, informasi tersebut didapat dari siaran pers yang diterbitkan East Asia Minerals Corporation tertanggal 3 Mei 2011 (waktu Kanada).
"East Asia Minerals Corporation, yang tercatat pada Toronto Stock Exchange, menyatakan bahwa mereka akan membayar tunai sebesar 500.000 dollar AS serta menerbitkan 2,5 juta lembar saham untuk Carbon Conservation," kata Vanda.
Dalam perjanjiannya dengan Pemerintah Aceh pada Juli 2008 lalu, Carbon Conservation mendapatkan hak eksklusif dalam pemasaran dan penjualan karbon kredit hutan Aceh pada Blok Ulu Masen seluas 700.000 hektar.
Dengan adanya transaksi dengan East Asia Minerals Corporation tersebut, kata Vanda, Carbon Conservation secara jelas telah menjadikan hutan Aceh seperti agunan yang digadaikan melalui suatu skema transaksi saham.
Di satu sisi, East Asia Minerals Corporation punya kepentingan bisnis tambang emas di hutan Aceh (Miwah Project). Di sisi lain, Carbon Conservation memiliki hak eksklusif dari Gubernur Aceh untuk menjual dan memasarkan karbon kredit dari 700.000 hektar hutan Aceh pada blok hutan Ulu Masen.
"Mengapa hutan Aceh dijadikan aset oleh Carbon Conservation untuk mendapat dana dari transaksi saham dengan East Asia Minerals Corporation? Ini jelas mengandung konflik kepentingan," ujar Vanda.
Dengan kata lain, Carbon Conservation telah menyalahgunakan perjanjian kerjasamanya dengan Pemerintah Provinsi Aceh. Karena itu, transaksi saham itu harus ditolak mentah-mentah. Menurut Vanda, motif transaksi tersebut sangat jelas untuk kepentingan bisnis East Asia Minerals Corporation dan Carbon Conservation. Buktinya, pernyataan dari East Asia Minerals Corporation dalam siaran persnya yang menyebutkan pelaku bisnis perhiasan skala besar melakukan boikot terhadap emas yang diambil dari praktik pertambangan yang tidak ramah lingkungan, atau mengambil emas dari kawasan-kawasan yang sensitif secara lingkungan.
"Hutan Aceh, terutama kawasan hutan lindungnya, tergolong kawasan-kawasan yang sensitif secara lingkungan. Perjanjian kerjasama antara Pemerintah Provinsi Aceh dan Carbon Conservation telah dijadikan tameng operasi tambang East Asia Minerals Corporation melalui transaksi saham antara kedua perusahaan itu," jelas Vanda. Greenomics Indonesia menentang keras langkah Carbon Conservation tersebut. Greenomics meminta Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk tidak membiarkan transaksi tersebut berlanjut.
Vanda mengaku sudah mengonfirmasikan hal ini kepada Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Gubernur menegaskan, tak pernah mengeluarkan rekomendasi apa pun terkait operasi East Asia Minerals Corporation di Aceh. "Bahkan, Gubernur mengaku aneh, East Asia Minerals Corporation sekarang operasional," lanjut dia.
Tindakan Carbon Conservation juga dinilai sebagai pelecehan Undang-Undang 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Greenomics telah meminta Pemerintah Aceh segera mendesak Carbon Conservation membatalkan transaksi saham tersebut. "Kami juga telah sampaikan masalah Carbon Conservation ini kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Hasbi Abdullah. Ketua DPRA dengan tegas menyatakan menolak transaksi saham antara Carbon Conservation dan East Asia Minerals Corporation yang melibatkan hutan Aceh tersebut," tandas dia.